0

Kamu jangan berubah, ya.

Kita semua punya satu ruang di hati khusus bagi satu orang dan tidak pernah mampu membayangkan orang lain menempati ruang yang telah kita sediakan itu. Sayang sekali kita dibuatnya. Saking sayangnya, sampai-sampai kita sering berdoa semoga waktu berjalan lebih lambat supaya kita bisa bersamanya lebih lama, semoga matahari tidak lekas terbit supaya kita bisa mengobrol lebih banyak hal lagi dengannya, sampai kita berdoa semoga ia tak pernah berubah selamanya. Sedikitpun jangan berubah. Just stay the same because we love them as who they are now.

Sebab perubahan selalu menakutkan. Perubahan seringkali menyesakkan. Perubahan mungkin mengecewakan. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
3

Eh, Sekarang Ada Tanda Tangan Digital!

Dari zaman kuliah dulu (berasa sudah lama, ya. Padahal baru wisuda juga bulan Februari kemarin), saya sering direpotkan dengan dokumen-dokumen penting yang perlu tanda tangan dari dosen. Dokumennya banyak, perlu tanda tangan asli, tapi seperti dosen-dosen kesayang kita semua pada umumnya, mereka susah sekali ditemui saking sibuknya. Hasilnya? Tentu saja pengesahan dokumen jadi lama dan saya harus berkali-kali melatih sabar untuk bisa bertemu dengan dosen untuk sekadar minta tanda tangannya yang biasanya dilakukan hanya dalam 2 detik saja. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
4

Isnaeni Wurilestari

Saya ingin mengajari kalian satu hal yang saat ini sudah mulai pudar; menghargai.

Menghargai bukan sekadar menilai dari ukuran mata uang, melainkan dengan etika. Menghargai entah mengapa sekarang jadi hal yang sangat mahal, banyak sekali orang-orang yang maunya dihargai tapi sama sekali tidak berusaha menghargai. Maka bagi orang-orang tolol dan bebal yang tak tahu diri semacam itu perlu “disentil” supaya sadar, supaya tidak merasa paling benar, supaya jadi manusia yang berguna, bukannya yang menguji sabar. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
0

Putus Asa

Minumlah! Coklat di cangkirmu akan bertambah dingin jika kau diamkan lebih lama lagi. Seharusnya ia tidak menyandang nama coklat panas kalau toh pada akhirnya, kau nikmati saat ia sudah dingin. Mengapa, sayang? Mengapa kau tega mendiamkan secangkir coklat panas yang menghangatkan dan justru menghabiskan waktumu untuk melamun?

Ada masalah apa? Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)