3

Aku Tak Ingin Mencintaimu

Teruntuk: laki-laki yang terlelap di pangkuanku.

Sudah pukul 1 malam dan aku masih merenungi wajahmu yang tenang. Tidak seperti di luar yang berisik sebab hujan masih tak juga reda sejak sore tadi, membuatmu pulang ke rumah dengan tubuh kuyup tetapi mengapa senyum lebar masih saja bertengger di wajahmu saat kau –sambil menyeka wajah dan memeras jaketmu- menunjukkan sebungkus ubi cilembu bakar saat melihatku membukakan pintu?

Air hangat sudah siap. Kau boleh mandi. Sup ayam yang kubuat masih hangat meski jelas rasanya tak keruan, tetapi kau bilang, malam ini perutmu bahagia.

Sambil mengunyah ubi cilembu oleh-oleh darimu, basa-basi saja aku tanyakan pekerjaanmu hari ini, tetapi kau begitu bersemangat menceritakan hingga detailnya; saat klienmu menepuk punggungmu, puas dengan desain yang kau buat untuk toko barunya, atau saat bosmu berdecak kecewa melihat pekerjaanmu yang tak selesai-selesai padahal dia sendiri yang memberikan banyak pekerjaan padamu. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
28

Cara Balas Dendam ke Mantan

Aku orang yang pendendam, semoga kamu juga. Jadi kamu bisa membaca tulisanku kali ini dengan pikiran yang terbuka dan dada yang lapang.

Kita pernah, dalam suatu waktu, merasa begitu kehilangan. Kita semua tahu rasanya bagaimana meski jelas setiap orang menahannya dengan cara yang berbeda-beda. Aku punya beberapa teman dekat, yang satu kalau sedang sedih, dia memilih untuk menghabiskan waktunya bermain ke tempat-tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru. She looks so happy until one day I asked her, “How come you don’t look sad at all while your relationship just ended like that?”

She answered,”At first, I fake it. But then my heart heals itself.” Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
3

Untung Saja Kamu

Di sini lagi, berdua –aku dan kamu. Saling tatap dan bercerita.

Aku selalu senang ketika kita sedang berdua dan bertatapan, kamu kemudian bertanya, “Kenapa kita bisa sedekat ini?” lalu seperti lagu-lagu kesukaan yang kita hapal betul iramanya, percakapan kita pun demikian. Diikuti dengan episode-episode yang meski selalu kita ulang tapi kita tak pernah bosan, demi mengingat-ingat kembali bagaimana kita dulu hanyalah asing yang berusaha menyembuhkan diri kita sendiri dari luka-luka paling tahi anjing. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
1

Tulisan

Dalam suatu waktu, aku menemukanmu di langit-langit kepalaku. Di waktu yang lain, dari balik kelopak mataku, aku bertatapan denganmu. Banyak malam, aku berdoa semoga tak bertemu denganmu tapi kau justru hadir di bunga tidurku. Kadang kau terlihat sedih, seringnya kau tertawa dengan wajah menyebalkan. Paginya, aku bangun dengan menduga-duga, apa kau masih tertawa sedemikian menyebalkannya?

Malam yang lain, aku tak mau tidur. Rencananya supaya tak bertemu denganmu lagi, tapi kau malah datang sebagai hujan, mengetuk-ngetuk jendela kamarku, tiap tetesnya menyebut namamu. Aku berkata kepada diriku sendiri untuk segera tidur sebab terjaga beratus-ratus malam pun tak akan bisa membuatmu pulang kepadaku. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)