2

Mari Sudahi

Pergilah,” katamu.

Aku bergeming. Bingung akan ke mana.

Kau mau aku ke mana?

Jika kau adalah pulang.

Jika dadamu adalah sebenar-benarnya rumah.

Jika menujumu adalah satu-satunya peta yang kuhapal di luar kepala.

 

Cintailah orang lain,” katamu.

Bagaimana mungkin aku mampu mencintai orang lain?

Jika setiap doa yang kuterbangkan selalu mengeja namamu.

Jika setiap angan yang kuinginkan selalu tentangmu.

Jika setiap nada yang kudengarkan selalu melagukanmu.

Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
0

Can I?

Kita semua pernah merasa sebal sama teman, kesal setengah mati karena mereka lelet, gak nyambung, ingkar janji, bahkan egois. Tapi, semarah-marahnya kita, di dalam hati tahu tidak akan ada orang yang bisa menggantikan posisi mereka. Tidak akan ada orang yang bisa kita sayangi melebihi sayangnya kita kepada mereka.

Sampai akhirnya saat kita memiliki kesempatan untuk bernostalgia dan memikirkan apa saja yang sudah kita lalui bersama mereka, akan ada rasa bahagia sekaligus sedih. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
8

Kesedihan Merayakan Dirinya Sendiri di Langit-langit Kamarku


Aku banyak menghabiskan waktu dengan melarikan diri. Menonton film dari bangun tidur sampai tidur lagi, bahkan sampai lupa makan. Mendengarkan lagu yang liriknya sama sekali tak kumengerti, mengangguk-anggukkan kepala seolah menikmati. Berpura-pura.

Sisa hari, saat sinar layar laptop dan ponsel sudah terlalu banyak menyakiti mata, atau alunan nada-nada telah berubah menjadi denging yang memekakkan telinga, aku akan berbaring di lantai kamarku, menatap langit-langit, menangis.

Menganggap bahwa semesta tahu semua yang kurasakan sekaligus merasa tak ada siapapun atau apapun yang mampu memahami apa yang kurasakan. Berkelahi dengan diri sendiri di antara dua pilihan untuk membenci atau merindukan.

Aku sering memikirkan banyak hal yang membahagiakan. Berharap kebencian akan lekas-lekas pergi dan membiarkan kehangatan kenang menelusup ke dalam jiwa, tapi anehnya, semakin teringat banyak hal membahagiakan yang telah kulewati bersamanya, semakin besar pula benci yang bersarang dalam dada. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
0

Apa kau akan baik-baik saja?

Mistakes just happened.

Kau mungkin menghabiskan sepanjang waktu untuk memikirkan bagaimana caranya memperbaiki kesalahan yang telah kau buat. Sesekali bahkan berandai-andai untuk kembali ke masa lalu dan membenahi hal-hal yang memang perlu padahal kau tahu betul, betapapun kau berusaha mengubahnya, kesalahan itu tetap ada. Terjadi begitu saja, tepat di depan mata. Membuat hatinya -hati yang selama ini kau jaga- akhirnya terluka begitu dalam dan menyisakan sesal di selubung dadamu saat ia akhirnya memilih pergi.

Kau mungkin menimbang-nimbang dalam keputusasaan, tapi tak berhasil menemukan apa-apa. Kau tahu, meratapi masa lalu juga tak akan mengubah apa-apa. Sampai akhirnya kau tiba pada satu titik, saat kau berpikir untuk menyerah dan move on saja. Melupakan kesalahan-kesalahan yang telah kau buat, berhenti mengejarnya, pindah ke hati yang baru, memulai semuanya dari awal kemudian sibuk berbahagia. Pilihan yang sama sekali tak mudah tapi jauh lebih mungkin daripada kembali dan memperbaiki hal-hal yang sudah terlanjur terjadi. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)