0

hari terakhir tahun ini

rindu yang serabutan dan pagi yang bukan kau.

Hari ini kita punya waktu lebih lama untuk saling tenggelam dalam cerita tentang mimpi semalam atau bosmu yang menyebalkan atau sekadar pasien-pasienku yang merengek ingin segera pulang. Pagi ini kita punya waktu lebih luang untuk saling merapatkan badan, mengembuskan cinta dengan napas yang terengah-engah dan tubuh-tubuh berbalut keringat yang menggelinjangkan kebahagiaan pada tiap aliran darah yang mengaliri nadinya.

Untuk hari terakhir tahun ini, waktu memang meluangkan dirinya untuk kita; dalam ingin-inginku yang sekadar angan. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
1

Aku Tak Ingin Mencintaimu

Teruntuk: laki-laki yang terlelap di pangkuanku.

Sudah pukul 1 malam dan aku masih merenungi wajahmu yang tenang. Tidak seperti di luar yang berisik sebab hujan masih tak juga reda sejak sore tadi, membuatmu pulang ke rumah dengan tubuh kuyup tetapi mengapa senyum lebar masih saja bertengger di wajahmu saat kau –sambil menyeka wajah dan memeras jaketmu- menunjukkan sebungkus ubi cilembu bakar saat melihatku membukakan pintu?

Air hangat sudah siap. Kau boleh mandi. Sup ayam yang kubuat masih hangat meski jelas rasanya tak keruan, tetapi kau bilang, malam ini perutmu bahagia.

Sambil mengunyah ubi cilembu oleh-oleh darimu, basa-basi saja aku tanyakan pekerjaanmu hari ini, tetapi kau begitu bersemangat menceritakan hingga detailnya; saat klienmu menepuk punggungmu, puas dengan desain yang kau buat untuk toko barunya, atau saat bosmu berdecak kecewa melihat pekerjaanmu yang tak selesai-selesai padahal dia sendiri yang memberikan banyak pekerjaan padamu. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
30

Cara Balas Dendam ke Mantan

Aku orang yang pendendam, semoga kamu juga. Jadi kamu bisa membaca tulisanku kali ini dengan pikiran yang terbuka dan dada yang lapang.

Kita pernah, dalam suatu waktu, merasa begitu kehilangan. Kita semua tahu rasanya bagaimana meski jelas setiap orang menahannya dengan cara yang berbeda-beda. Aku punya beberapa teman dekat, yang satu kalau sedang sedih, dia memilih untuk menghabiskan waktunya bermain ke tempat-tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru. She looks so happy until one day I asked her, “How come you don’t look sad at all while your relationship just ended like that?”

She answered,”At first, I fake it. But then my heart heals itself.” Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
3

Untung Saja Kamu

Di sini lagi, berdua –aku dan kamu. Saling tatap dan bercerita.

Aku selalu senang ketika kita sedang berdua dan bertatapan, kamu kemudian bertanya, “Kenapa kita bisa sedekat ini?” lalu seperti lagu-lagu kesukaan yang kita hapal betul iramanya, percakapan kita pun demikian. Diikuti dengan episode-episode yang meski selalu kita ulang tapi kita tak pernah bosan, demi mengingat-ingat kembali bagaimana kita dulu hanyalah asing yang berusaha menyembuhkan diri kita sendiri dari luka-luka paling tahi anjing. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)