Cara Balas Dendam ke Mantan

Aku orang yang pendendam, semoga kamu juga. Jadi kamu bisa membaca tulisanku kali ini dengan pikiran yang terbuka dan dada yang lapang.

Kita pernah, dalam suatu waktu, merasa begitu kehilangan. Kita semua tahu rasanya bagaimana meski jelas setiap orang menahannya dengan cara yang berbeda-beda. Aku punya beberapa teman dekat, yang satu kalau sedang sedih, dia memilih untuk menghabiskan waktunya bermain ke tempat-tempat baru dan bertemu dengan orang-orang baru. She looks so happy until one day I asked her, “How come you don’t look sad at all while your relationship just ended like that?”

She answered,”At first, I fake it. But then my heart heals itself.”

Jadi tagline “Fake it until you make it” does apply to her. Tapi kan tidak semua orang bisa berpura-pura bahagia. Well, I’m not. Aku orang yang sangat ekspresif. Aku seperti sebuah poster seminar yang ditempel di papan pengumuman. Semua orang bisa dengan mudah membaca. Kalau aku senang, akan kelihatan. Kalau aku tak suka, akan kelihatan sekali. Kalau aku sedih, jangan ditanya. Dan seperti penyakit menular, aku bahkan bisa menginfeksi orang-orang di sekitarku untuk merasakan hal yang aku rasakan. Makanya, ketika aku berduka dan aku merasa kalau aku membawa bad vibes ke orang-orang di sekitarku, aku memilih untuk menyendiri saja. Aku menghibur diriku dengan mendengarkan musik di kamar, membaca buku, menonton film-film bagus di bioskop atau sekadar menghabiskan series drama korea di laptop. Bukan tak ingin berbagi, menurutku itu adalah salah satu proses self healing sebab melihat orang lain bahagia itu juga menyembuhkan. Jangan sampai mereka yang seharusnya berbahagia, jadi ikut berduka karena aku menularkan kesedihan kepada mereka. Itu kalau aku, kalau kamu? Mungkin kamu punya caramu sendiri untuk menyembuhkan diri.

Berakhirnya suatu hubungan yang pernah sama-sama diperjuangkan itu memang menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi jika kita bukannya berusaha untuk membahagiakan diri sendiri dengan melepaskan, tapi justru menenggelamkan diri ke dalam kenangan-kenangan lama.

Seperti apa misalnya? Ngepoin mantan. Mulai dari sering membaca tweetnya, melihat foto-foto di instagramnya, buat akun fake untuk sekadar follow akun media sosial mantan demi melihat aktivitasnya setelah putus dari kita (karena tengsin banget kalau pakai akun sendiri), sampai ngepoin orang-orang yang dekat dengan mantan. Perempuan-perempuan baru yang dia follow, atau kalau dia sudah punya pacar, kita akan ngepoin pacarnya mantan, tentu saja setelah menangis tersedu-sedu dulu karena merasakan sakitnya tergantikan di hatinya.

Kita semua tahu kalau ngepoin mantan itu seperti makanan-makanan cepat saji, tidak sehat untuk diri sendiri tapi tetap saja dinikmati. Kita bisa tahu bahwa hidup si mantan ternyata baik-baik saja tanpa kita tapi dengan tololnya kita masih mengingat-ingat kalimat “Aku tidak bisa hidup tanpamu” darinya. I used to think like that. Bahwa meski mantanku jelas-jelas kelihatan berbahagia, aku masih berpikir bahwa,”Dia tidak sedang berbahagia. Dia hanya berpura-pura.” Apa untungnya punya pemikiran seperti ini? Aku malah membohongi diriku sendiri. Karena justru pemikiran seperti inilah yang membuat aku -atau mungkin kalian yang berpikiran sama- jadi susah move on. Kita jadi menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah hilang sejak dulu; kesempatan. Sudah tidak ada lagi waktu untuk kembali dan memperbaiki, sebenarnya kita tahu tapi kita menolak beranjak untuk jatuh cinta lagi. Kenapa? Karena kita terlalu takut. Takut kita tidak bisa melupakan mantan. Ya mana bisa? Orang setiap hari kita mengingatkan diri untuk selalu ingat mantan dengan ngepoin dia, kok. Kemudian takut mantan lebih bahagia. Ya jelas dia lebih bahagia karena mungkin, ketika dihadapkan pada pilihan melepaskan atau bertahan, dia memilih untuk melepaskan karena tahu kalau bertahan lebih menyakitkan sementara kita di sini saja, bertahan untuk sesuatu yang sudah tidak mungkin dibangun lagi seperti semula. Takut bahwa tidak akan ada orang lain yang mencintai kita sebaik dia mencintai kita padahal coba pikirkan baik-baik, jika dia mencintai kita sebaik itu, kita tidak akan sesedih ini. By this time, we should be laugh and hug him but look at us now. We’re crying, thinking about him while he doesn’t even give a fuck to whatever we’re doing now.

Setelah itu, terbitlah rasa-rasa tidak sehat lainnya. Marah karena merasa kita telah dibohongi. Dendam karena merasa kita telah dipermainkan. Boleh tidak kita merasa marah? Boleh sekali. Karena marah adalah tahap selanjutnya dari penyembuhan diri. Ini akan aku bahas di tulisanku yang lain kapan-kapan. Kalau kalian tertarik untuk membaca, tulis di kolom komentar. Aku akan buat tulisannya dengan senang hati.

Kembali ke topik sebelumnya, boleh tidak kita merasa dendam? Boleh. Seperti yang aku bilang, aku ini perempuan pendendam. Aku akan membalas apapun yang aku rasakan, setiap titik sakit yang mampir di dadaku, akan kulunasi.

Menurutku, untuk membalas dendam ke mantan itu tidak harus punya pacar baru. Ini ada beberapa cara lain dariku yang mungkin kamu bisa tiru untuk melunasi dendam-dendam kita ke mantan.

  1. Berbaik hatilah

Aku tahu meski sulit luar biasa untuk menjaga bahasa kita agar tetap sopan saat berbicara atau chat dengan mantan, tapi kita harus tetap berusaha. Meskipun jauh di lubuk hatimu paling dalam sudah tidak sudi untuk ngobrol lagi bahkan berbuat baik adalah pilihan terakhir yang mungkin ada di daftar hal yang akan kamu lakukan padanya, tapi percayalah bawa kamu justru mengangkat dirimu sendiri dengan tetap berperilaku baik kepada orang yang tidak pantas menerima kebaikan darimu. Tunjukkan bahwa dia telah salah melepasmu. Kalau kamu sudah terlalu jengah dan muak untuk berpura-pura sopan di hadapannya, kamu boleh menolak berhubungan dengannya. Tidak apa-apa. Hal lain yang bisa kamu lakukan adalah tidak menjelek-jelekkannya.

Untuk tidak menjelek-jelekkan mantan kan kamu tidak perlu berhubungan atau ngobrol dengannya. Yang perlu kamu lakukan adalah menghindari pembicaraan dengan orang-orang di sekitarmu yang membicarakan betapa buruk perlakuannya padamu meski kamu sebenarnya setuju dengan pembicaraan mereka. Kalau kamu tidak bisa membela mantanmu saat orang lain menjelekkannya di depanmu, bilang, “Dia bukan orang yang seperti itu,” atau pergi saja. Karena bagaimanapun, mantanmu itu pernah menjadi pilihanmu. Sejelek-jeleknya dia, adalah sejelek-jeleknya pilihanmu juga. Keep it private and just let it go. Maksudku, tidak ada orang yang sempurna bahkan kamu sendiri pun ada jeleknya, so can we just admit it and let it go? Poinku di sini adalah kalau kamu memang tidak bisa baik-baikin mantan, maka jangan jahat juga. Sebab menjelek-jelekkan mantan tidak akan membuat kamu jadi seorang mantan yang baik dan tidak akan menjamin kamu untuk dapat pacar baru yang lebih baik dari mantan.

  1. Berbahagia

“The best revenge of all: being happy; nothing drives people crazier than seeing someone living a good life. – unknown”

Sama seperti yang kita rasakan ketika mantan bahagia saat sudah putus sama kita, hal itu berlaku sebaliknya. Bagaimanapun, kalian berdua pernah sama-sama jatuh cinta, saling membahagiakan, maka ketika dia sudah berbahagia dengan yang lain, maka kita akan merasa kecewa karena sadar bahwa kebahagiaannya sudah bukan kita lagi. Dia pun demikian. Saat tahu bahwa sumber kebahagiaan kita sudah bukan dia lagi, percaya deh, sebahagia apapun dia saat ini, kalau dia tahu kamu sudah tidak sedih karena dia lagi, dia akan merasa kehilangan. Pasti. Meski hanya sedikit, tapi dia pasti merasa kehilangan.

Jadi jangan takut untuk berbahagia. Kita bisa menemukan kebahagiaan dari mana saja. Kita bisa pergi ke tempat-tempat baru dan bertemu orang-orang baru. Saranku, saat berkenalan dengan orang baru, tanamkan niat bahwa kita hanya ingin menyembuhkan diri sendiri dengan perspektif baru dari kepala-kepala baru, bukan untuk cari pacar baru. Sebab kalau niatnya untuk cari pacar baru, efeknya akan jauh berbeda. Kita jadi berharap dan cenderung buru-buru untuk jatuh cinta. Tahu kan kalau berharap itu ujung-ujungnya apa? Iya, kecewa.

“Mana nih kok nggak ada cocok ya sama aku?”

Pertanyaan ini akan muncul di kepala kita dan justru tujuan utama untuk menyembuhkan diri malah terabaikan. Bukannya sembuh, kita nanti justru semakin menyedihkan karena merasa bahwa menjadi bahagia adalah perlombaan. Padahal yang kita lombakan adalah yang tidak seimbang. Kita membandingkan apa yang benar-benar kita rasakan dengan apa yang kita pikir orang lain rasakan. Yang membuat lomba kita sendiri, yang menciptakan lawan lomba juga kita sendiri.

Rasanya tidak adil untuk hati kita karena ya buat apa kita membuat hati sendiri lelah? Padahal kita tahu betul bahwa standar kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda dan hanya bisa dirasakan orang-orang itu sendiri. Kenapa kita sok tahu standar kebahagiaan orang lain dan membandingkannya dengan kebahagiaan kita?

  1. Jadi orang sukses

Sebab di balik kesuksesan seseorang, pasti ada mantan yang menyesal telah menyia-nyiakan.

Jadikan kebencian kita sama mantan sebagai motivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Selain baik untuk diri kita sendiri, baik juga untuk masa depan kita nanti. Bukankah Tuhan memberikan jodoh sesuai dengan golongan seseorang? Kalau kita sudah masuk golongan orang yang baik dan sukses, jodoh kita tidak akan jauh-jauh dari orang yang baik dan sukses juga, kan?

Menjadi sukses itu bisa berbentuk apa saja. Tidak selalu menjadi terkenal, punya uang banyak, dan punya bisnis oke. Being success is about knowing where you’re good at and being excellent at it. Aku bingung nulis bahasa Indonesianya gimana. Intinya adalah menjadi sukses itu kita tahu kita bagus di bagian apa, dan kita tahu kalau saat ini kita sudah lebih baik dari saat kita memulai. Misalnya, kita bagus di bidang akademik, kalau dulu nilai kita 8, sekarang sudah 9,8. Atau kita bagus di bidang menulis, dulu pembaca tulisan kita 5 orang, sekarang bertambah 7 orang.

Kesuksesan itu tidak ada tolok ukur yang baku. Yang tahu ya hanya diri kita sendiri.

Jadi, itu cara yang bisa aku bagi dengan teman-teman. Sedikit tapi sulit. Tapi hal yang sulit bukan berarti tidak mungkin dilakukan. Awal-awal akan terasa berat, kita perlu banyak latihan. Akan ada banyak kepura-puraan bahkan penolakan dalam diri kita. Mungkin juga akan ada pikiran bahwa kita merendahkan diri kita sendiri dengan berbuat hal-hal yang aku tulis tadi, tapi percaya deh sama aku, apa yang kamu lakukan itu sebenarnya justru mengangkat dirimu sendiri. Kamu belum bisa melihatnya sekarang, tapi nanti kamu akan berterima kasih sama diri sendiri karena sudah stick to the plan until the very end. How can I say this? Because I already did it. I survived, and you should too.

Lagipula, being nice to everyone termasuk mantan itu tidak ada yang salah. Toh dia juga manusia yang pantas kita perlakukan dengan baik. Dan hey, tidak ada yang salah juga kok dengan menjadi bahagia, terutama untuk hatimu sendiri.

Ps: komen di bawah kalau teman-teman punya tips oke yang lain untuk balas dendam ke mantan.

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)

28 thoughts on “Cara Balas Dendam ke Mantan

  1. Gue ga bisa balas dendam gitu. Malah kefikiran, nanti kira-kira kedepannya nanti bisa ketemu sama yang lebih baik dari kemarin ya? Kyaknya ga bisa.

    Ujung-ujungnya pesimis duluan.

    Tipsnya dilanjutin lagi dong.

  2. Baca blog ini pas banget kondisi hati lagi payah-payahnya karena mantan. Setelah ini aku tekadkan untuk lebih bahagia !! Terima kasih ka pencerahannya 😚

  3. Ya ampun kak, makasih lho ini jadi motivasi aku banget. aku baca terus berulang-ulang supaya inget apa yang harus aku lakukan:))

  4. Gue gak tau sih gimana bisa nemu tulisan lo yang ini. Pas banget dengan keadaan hati gue yang lagi agam karna mantan. Pengen bahagia, (lagi), tapi kok rasanya sesak?

  5. Kak pas banget hati lagi ga karuan soal mantan, mudah mudahan bisa sukses bales dendam ke mantannya

  6. I’ve been there before … I’ve felt more painful than that. I’m divorced man. I loved my ex wife so much than anything else in this whole wide world. Until one day she betrayed me. She ran with a damn wealthy man which is her friend at college. At first, I felt so down. Felt pity to my self. Those days are my darkest days. But now,I feel so proud to my self, I’m not the one who sacrificed the marriage just for money, wealth, etc.

  7. halo kak! btw udah jalan 2thn aku pisah dan sampe skrg kadang masih suka kepikiran&keinget hehehe. abisan, awal kita pisah bener2 baik2 saja walaupun ada breaknya dikit, tp msh berbagi&care satu sm lain. smpe akhirnya, segala cara aku lakuin tp ttp gagal buat moved. dan mungkin, tips dr aku ya itu miss-com sm mantan sih ya, karna dr yg aku lakuin itu, aku bener2 ga kepikiran. my life’s better, walaupun kdg2 suka kepikiran. hehe, just sharing my thoughts!:)

  8. Aku banget kak. Sudah dan selalu~ Tiap putus, yang awalnya ku ingin marah melampiaskan, tapi lebih baik menghilang dari doi (ini untuk menghindari buang-buang energi karena berantem dsb). Setelah sudah mulai bisa berdamai dengan hati dan diri sendiri, ku minta maaf. Karena bagiku mantan -seperti kata kak ara yang mereka adalah pilihan kita, tentunya mereka adalah yang terbaik yang kita pilih di antara orang baik lainnya. Jadi setelah putus aku minta maaf. Mencoba tetap menjaga silaturrahmi (meski butuh waktu yang relatif lama untuk kemudian kami saling memaafkan) karena sebagai manusia kita suatu saat pasti butuh bantuan orang lain yangmana siapa tau, bantuan yang kita perlukan nantinya ya dari mantan kita itu. Oia terus kalo abis putus ya seperti kata kak ara harus selalu terlihat bahagia walopun fake, karena jangan mau jadi payah dengan mengumbar kesedihan yang bahkan doi gak peduli. Sama bersyukur kak! Karena Tuhan sudah begitu baik, dengan menunjukkan bahwa dia bukan yang terbaik buat kita. Hehe maap kepanjangan :))

  9. Im still reading your blog. dari jaman baheula.

    Dan
    selalu nancep di hati.

    Kita semua tahu kalau ngepoin mantan itu seperti makanan-makanan cepat saji, tidak sehat untuk diri sendiri tapi tetap saja dinikmati. Kita bisa tahu bahwa hidup si mantan ternyata baik-baik saja tanpa kita tapi dengan tololnya kita masih mengingat-ingat kalimat “Aku tidak bisa hidup tanpamu” darinya.

    Love you kak!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.