3

Aku Tak Ingin Mencintaimu

Teruntuk: laki-laki yang terlelap di pangkuanku.

Sudah pukul 1 malam dan aku masih merenungi wajahmu yang tenang. Tidak seperti di luar yang berisik sebab hujan masih tak juga reda sejak sore tadi, membuatmu pulang ke rumah dengan tubuh kuyup tetapi mengapa senyum lebar masih saja bertengger di wajahmu saat kau –sambil menyeka wajah dan memeras jaketmu- menunjukkan sebungkus ubi cilembu bakar saat melihatku membukakan pintu?

Air hangat sudah siap. Kau boleh mandi. Sup ayam yang kubuat masih hangat meski jelas rasanya tak keruan, tetapi kau bilang, malam ini perutmu bahagia.

Sambil mengunyah ubi cilembu oleh-oleh darimu, basa-basi saja aku tanyakan pekerjaanmu hari ini, tetapi kau begitu bersemangat menceritakan hingga detailnya; saat klienmu menepuk punggungmu, puas dengan desain yang kau buat untuk toko barunya, atau saat bosmu berdecak kecewa melihat pekerjaanmu yang tak selesai-selesai padahal dia sendiri yang memberikan banyak pekerjaan padamu. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
3

Untung Saja Kamu

Di sini lagi, berdua –aku dan kamu. Saling tatap dan bercerita.

Aku selalu senang ketika kita sedang berdua dan bertatapan, kamu kemudian bertanya, “Kenapa kita bisa sedekat ini?” lalu seperti lagu-lagu kesukaan yang kita hapal betul iramanya, percakapan kita pun demikian. Diikuti dengan episode-episode yang meski selalu kita ulang tapi kita tak pernah bosan, demi mengingat-ingat kembali bagaimana kita dulu hanyalah asing yang berusaha menyembuhkan diri kita sendiri dari luka-luka paling tahi anjing. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
1

Tulisan

Dalam suatu waktu, aku menemukanmu di langit-langit kepalaku. Di waktu yang lain, dari balik kelopak mataku, aku bertatapan denganmu. Banyak malam, aku berdoa semoga tak bertemu denganmu tapi kau justru hadir di bunga tidurku. Kadang kau terlihat sedih, seringnya kau tertawa dengan wajah menyebalkan. Paginya, aku bangun dengan menduga-duga, apa kau masih tertawa sedemikian menyebalkannya?

Malam yang lain, aku tak mau tidur. Rencananya supaya tak bertemu denganmu lagi, tapi kau malah datang sebagai hujan, mengetuk-ngetuk jendela kamarku, tiap tetesnya menyebut namamu. Aku berkata kepada diriku sendiri untuk segera tidur sebab terjaga beratus-ratus malam pun tak akan bisa membuatmu pulang kepadaku. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)
11

Jangan jadi perempuan baik-baik

Menjadi perempuan banyak sekali tantangannya. Kita dituntut untuk menjadi dewasa namun tetap anggun dan memesona. Padahal masalah-masalah yang dihadapi tak jarang membuat kita lupa mencintai diri sendiri. Menjadi perempuan baik-baik memang penting, tapi jangan sampai kebaikan yang kita sebarkan justru melukai diri kita sendiri. Aku bilang, berjuanglah untuk hal-hal yang menurutmu memang pantas kau perjuangkan meski pada akhirnya kau perlu berlomba dengan perempuan-perempuan lain. Jangan mau mengalah hanya karena alasan ingin menjadi perempuan baik-baik. Perempuan baik-baik untuk siapa? Untuk diri sendiri saja kau tak cukup baik, untuk diri sendiri saja kau tak mau lelah, untuk diri sendiri saja kau tak mau membela.

Menjadi perempuan perlu belajar memilih dan memilah, mana yang pantas untuk diperjuangkan dan mana yang sebaiknya ditinggalkan. Sebab menjadi kuat bukan hanya tentang seberapa lama lagi kau mampu bertahan tapi juga tentang seberapa sanggup kau memilih untuk meninggalkan hal-hal yang menyakiti dirimu, hal-hal yang tak baik untuk hatimu, untuk kemudian melangkah dengan rencana-rencana baru yang lebih membahagiakan. Continue reading

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)