Untung Saja Kamu

Di sini lagi, berdua –aku dan kamu. Saling tatap dan bercerita.

Aku selalu senang ketika kita sedang berdua dan bertatapan, kamu kemudian bertanya, “Kenapa kita bisa sedekat ini?” lalu seperti lagu-lagu kesukaan yang kita hapal betul iramanya, percakapan kita pun demikian. Diikuti dengan episode-episode yang meski selalu kita ulang tapi kita tak pernah bosan, demi mengingat-ingat kembali bagaimana kita dulu hanyalah asing yang berusaha menyembuhkan diri kita sendiri dari luka-luka paling tahi anjing.

Seperti mimpi saja, semua terjadi begitu cepat. Kamu terluka dan aku patah. Lalu segelas matcha latte dan coklat panas berhasil menumbuhkan janji-janji untuk bertemu kembali. Aku, kamu dan cerita-cerita yang berlalu lalang di kepala kita. Aku, kamu dan tawa yang ternyata saling menyembuhkan.

Seandainya saja, sore itu aku tak mengiyakan ajakanmu untuk sekadar duduk berhadapan sambil menghirup segelas matcha latte kesukaanku, mungkin kita berdua tidak akan saling bertatapan sambil sesekali kamu mencuri genggam dan mengelus punggung tanganku seperti saat ini. Atau seandainya saja, sore yang lainnya aku tak mengiyakan ajakanmu untuk sekadar menemanimu makan ayam goreng, mungkin aku tidak akan tahu kalau bersamamu sebegini membahagiakannya.

Untung saja kamu orang yang berkepala batu. Mana ada jawaban “tidak” untukmu. Yang ada hanya “iya” atau “besok saja”. Untung saja kamu orang yang tak tahu diri. Sudah tahu aku masih mencintai orang lain, kamu tetap saja datang dengan senyum menyebalkanmu itu lalu mencintaiku seolah aku tak pernah menjadi milik siapa-siapa lagi.

“Kamu tidak akan jadi milik orang lain,” katamu suatu waktu.

“Aku masih mencintainya,” jawabku.

“Tidak. Kamu hanya belum sadar saja kalau kamu mencintaiku,” bantahmu sambil tersenyum.

Aku tak menanggapimu. Sibuk menunduk, memperhatikan ujung sepatuku.

“Lagipula, perempuan sepertimu tidak akan mencintai laki-laki yang sudah berjuang untuk perempuan lain,” bisikmu.

Aku tertegun.

“Tahu dari mana?”

“Karena kamu perempuan dengan pemikiran seberani itu. Perempuanku.”

Untung kamu jauh lebih keras kepala dariku. Sebab jika tidak, aku akan kehilangan kesempatan untuk menikmati renyah tawamu, menghitung banyak rindu yang kugugurkan di dadamu, atau lebih parah lagi, aku akan kehilangan keberanianku untuk pergi dari ketololan-ketololanku dulu.

bagikan jika kamu suka tulisan ini :)

3 thoughts on “Untung Saja Kamu

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.